Sabtu, 22 Maret 2008

Biography Pendiri

Perjalanan Hidup KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Addary

“ Segala puji bagi Allah SWT atas segala sesuatu yang Ia berikan kepada ku, meliputi berbagai macam nikmat. Dan aku bersyukur kepada Allah SWT dengan memuji-Nya sebagai sebuah pujian dari seorang hamba yang ikhlas. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada “Sayyid sanad” yang agung yakni Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, shahabatnya, dan para pengikutnya.
Dengan segala kesungguhan hati, diantara nikmat Allah SWT yang tercurah kepadaku adalah diberikannya aku rezeki sehingga aku dapat melakukan perjalanan guna menuntut ilmu ke “Tanah Haram”, suatu negeri yang aman sentosa dimana terdapat makam kekasih Allah SWT, yakni makam Rosululloh SAW.

Ketika di bulan Rajab tahun 1366 Hijriyah (bulan Juni 1947) aku sedang tinggal / muqim di Kampung Muara (Cipinang Muara) untuk menuntut ilmu. Pada waktu itu kondisi negara Indonesia masih berkecamuk perang yang sangat dahsyat melawan penjajah Belanda (Agresi Militer Belanda I & II). Saat itu sudah bulat tekad ku untuk berangkat ke “Tanah Haram” suatu negeri yang aman sentosa untuk menuntut ilmu serta melaksanakan ibadah haji dan berziarah ke makam Rosululloh SAW. Namun demikian banyak pihak yang menyayangkan dan berupaya membatalkan tekad ku tersebut dengan dalih bahwa perjalanan tersebut tidak lebih merupakan propaganda Pemerintah Belanda. Aku tidak peduli terhadap anggapan dan cibiran masyarakat pada saat itu, karena aku berpedoman bahwa suatu perbuatan itu tergantung pada niatnya. Aku hendak berangkat meninggalkan Indonesia bukan untuk melarikan diri dari perjuangan kemerdekaan sebagaimana yang diharapkan oleh Penjajah Belanda , namun demi untuk menuntut ilmu yang justru akan sangat berguna di kemudian hari.

Pada tanggal 4 Dzul Qo’dah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan Agustus tahun 1947 Masehi, aku berangkat dari Indonesia dengan menggunakan kapal laut menyeberangi Samudera Hindia menuju Jeddah. Aku sampai di Jeddah pada akhir bulan Dzul Qo’dah dan aku menetap di sana. Pada satu kesempatan aku berziarah ke makam yang diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai makam “Ummina” Hawa. Selanjutnya dari Jeddah aku melaksanakan ibadah umroh menuju Mekkah, dan tiba di kota Mekkah pada tengah malam di bulan Dzul Hijjah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan September 1947.

Setelah aku selesai melaksanakan ibadah umroh aku pun tidak lupa untuk menziarahi tempat-tempat bersejarah di kota Mekkah. Aku bercita-cita di dalam hati untuk dapat menetap di dua kota yang sangat mulia, yakni Mekkah dan Madinah. Namun cita-cita tersebut mendapat tantangan yang sangat berat, yaitu kegelisahan dan kerinduan hati ku akan kampung halamanku yang terus mendesak ku untuk membatalkan cita-cita yang telah kuimpikan sejak lama, yakni menetap di Mekkah dan Madinah.
Dalam suasana hati yang tiada menentu, Alhamdulillah Allah memberikan hidayahNya kepadaku sehingga kegundahan hati dapat teratasi, dan aku mengambil keputusan untuk tetap tinggal dan menyelesaikan ibadah hajiku, walaupun bekal yang ku bawa dari tanah air semakin berkurang.
Aku menetap di kota Mekkah dan Madinah dengan tujuan untuk menimba ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Untuk mewujudkan tujuanku tersebut aku tinggal di rumah Syaikh Abdul Ghoni Jamal. Di tempat tersebut aku mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan, dimana begitu besarnya perhatian yang aku dapat dari beliau. Setelah beberapa lama aku menetap di rumah Syaikh Abdul Ghoni Jamal, maka pada pertengahan tahun aku pindah ke Asrama Jailani yang berada di sisi dalam “Mudda’i”. Pada waktu aku tinggal di sana, pertama kali aku belajar kepada Syaikh Muhammad Ahyad yang menggantikan Syaikh Muchtar Atthorid Al Jawi di Masjid Al Haram. Kitab-kitab yang aku baca dan pelajari dari Syaikh Muhammad Ahyad adalah : (1) Fathul Wahab, (2) Al Iqna Fi Hilli Al Fazhi Abi Syuja’, (3) Al Muhalla ‘Ala Al Qolyubi, (4) Riyadh Ash sholihin, (5) Minhaj Al ‘Abidin sebuah kitab Tasawuf, (6) ‘Umdah Al Abror sebuah kitab Mantiq, (7) dan Fath Al Qodir Fi Nusuk Al Ajir.

Guru yang kedua adalah Syaikh Hasan Muhammad Al Masyath. Dari beliau aku mempelajari beberapa kitab, antara lain ialah : Bagian akhir Kitab Shahih Muslim, dan bagian awal Kitab Shahih Bukhori di Masjid Al Haram.

Guru yang ketiga adalah Syaikh Zaini Bawean. Dari beliau aku membaca dan mempelajari Kitab Ihya Al ‘Ulumuddin. Pada saat itu aku belajar dengan beliau di rumah kediamannya.

Guru yang keempat adalah Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Maliki. Beliau merupakan seorang Guru Besar di kota Mekkah bahkan sampai mencakup wilayah Hijaz. Adapun mazhab yang beliau yakini adalah Mazhab Malik meskipun dalam beberapa kesempatan terkadang beliau menyesuaikan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Mazhab Malik dengan ketentuan-ketentuan yang berada di dalam mazhab-mazhab lainnya dari Mazhab Fuqoha Al Amshor. Dari beliau aku mempelajari Kitab Tuhfah yang dilaksanakan di kediamannya.

Guru yang kelima adalah Syaikh Mukhtar Ampetan. Di rumahnya aku mempelajari kitab Shahih Bukhori, dan Al Itqon Fi ‘Ulumi Al Qur’an.

Guru yang keenam adalah Syaikh Muhammad Al ‘Arobi Attubbani Al Sutoyfi Al Jazairi. Dari beliau aku mendengar serta mempelajari beberapa kitab di waktu yang berbeda-beda. Waktu yang pertama adalah setelah Sholat Shubuh, dimana aku mempelajari kitab Al Asymuni. Setelah kitab tersebut tamat aku baca, maka aku lanjutkan dengan membaca kitab Mughni Al Labib dan Tafsir Ibnu Katsir.
Waktu yang kedua adalah setelah Sholat ‘Ashar. Aku membaca dan mempelajari kitab Shahih Bukhori hingga tamat. Setelah itu dilanjutkan dengan mempelajari kitab Sunan Ibnu Majah. Waktu yang ketiga adalah setelah Sholat Maghrib. Pada waktu itu aku mempelajari kitab Attarghib Wa Attarhib, yang setelah tamat dilanjutkan dengan mempelajari kitab Riyadh Ash sholihin.

Guru yang ketujuh adalah Syaikh Said ‘Alawi Abbas Al Maliki. Aku belajar dengan beliau di rumahnya di daerah Bab Assalam. Ada beberapa kitab yang aku pelajari darinya, yakni : (1) Mughni Al Labib (2) Jauhar Al Maknun (3) Al Hikam Li Ibni Athoilah Al Sakandari sebuah kitab tasawuf (4) dan sebuah kitab kecil yang merupakan karangannya yang berjudul Al Aqdu Al Ma’alam Fi Aksami Al Wahyi Al Mu’adham.

Guru yang kedelapan adalah Syaikh Ibrohim Fathoni. Melalui beliau aku mempelajari kitab Tafsir Al Jalalain yang dilaksanakan di Masjid Al Haram pada waktu malam bulan Ramadhan.

Guru yang kesembilan adalah Syaikh Muhammad Amin Al Kutbi. Melalui beliau aku mempelajari kitab Shahih Bukhori, Minhaj Dhawi Nadhor Fi Alfiat Al ‘Ilmil Atsar, Jam’ul Jawami’ (Kitab Ushul). Selain kitab-kitab tersebut, yang paling banyak aku pelajari dari beliau adalah kitab Fiqh Al Hanafi yang dibaca di Masjid Al Haram.

Guru yang kesepuluh adalah Syaikh Ismail Fathoni. Di rumahnya aku menghadiri pembacaan kitab Hasyiah Ibnu ‘Aqil ‘Ala Alfiah. Di waktu itu, bersamaku ikut sekelompok syaikh dengan kitab Hasyiah Al Tsaniyah Fi Al Maqulat Al Asyar, dan sebagian syaikh yang lain ada yang menggunakan kitab Al Bulbudi, sebuah kitab yang sangat sarat manfaat apabila hendak mempelajari Maqulat Al Asyar.

Demikianlah sebagian perjalanan belajar ku dalam menuntut ilmu sebelum aku masuk ke Darul Ulum Addiniyah.

Setelah aku tinggal selama 2 tahun, aku berfikir apakah akan kembali lagi ke tanah air atau terus menetap di sana. Lalu sampailah pada keputusan ku untuk tetap tinggal di sana dan dengan langkah pasti aku masuk ke Darul Ulum Addiniyah pada permulaan bulan Muharam tahun 1369 Hijriyah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 1950. Di sekolah Darul Ulum inilah aku dapat mempelajari berbagai macam ilmu pengetahun guna melengkapi pengetahuan yang sudah aku miliki.

Dari sekian banyak para guru / syaikh di Darul Ulum Addiniyah, yang paling berperan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuanku adalah Syaikh Ahmad Mansyuri, yakni mudir Darul Ulum Addiniyah, dan Syaikh Muhammad Yasin, yang merupakan sebagai wakilnya. Melalui mereka berdua aku “bermulazamah” selama kurang lebih 2 tahun. Adapun kitab-kitab yang dipergunakan ( Muqorror) di Darul Ulum Addiniyah diantaranya adalah :
1. Ilmu nahwu terdiri atas kitab-kitab : Ibnu Aqil ‘Ala Alfiyah, Mukhtashor Ma’ani ‘Ala Altalkhish.
2. Ilmu Hadits terdiri atas kitab-kitab : Muwattho’ Malik, Sunan Abi Daud.
3. Ilmu Fiqih menggunakan kitab : AlMuhalla ‘Ala AlQolyubi.
4. Ilmu Ushul menggunakan kitab : Jam’ul Jawami.
5. Ilmu Tafsir menggunakan kitab : Ibnu Katsir.

Dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran lain yang aku pelajari di sana, seperti “Al Tathbiq Baina Almazahib Almudawwanah”. Yaitu suatu pelajaran yang mempelajari tentang persesuaian diantara beberapa mazhab. Melalui pelajaran tersebut aku mulai mengenal mazhab-mazhab melalui jalan “tatbiq” (persesuaian) pada kitab Sunan Abi Daud.
Rasa haus akan ilmu pengetahuan membuatku tetap saja merasa ada ilmu yang belum aku pahami dengan baik dan benar, sehingga aku memutuskan untuk belajar lagi di luar jam sekolah. Salah satu ilmu yang aku pelajari di luar jam sekolah adalah Ilmu Faroid, baik secara teori maupun praktek, dimana aku belajar kepada temanku yang bernama Abdul Hamid Amin Banjar, dan sebaliknya ia pun belajar dari ku akan ilmu pengetahuan yang lainnya, yakni Ilmu Falak, khususnya mengenai persoalan Ijtima’ dan Gerhana.
Di Darul Ulum Addiniyah, ilmu-ilmu yang paling banyak aku pelajari adalah Insya, Tarikh, dan Adabul ‘Aroby. Selain itu pula aku mempelajari metodologi pengajaran secara modern yang terus mengalami pembaharuan dan perkembangan.
Akhirnya, di penghujung bulan Zul Qoidah tahun 1370 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1951, aku berhasil menyelesaikan pendidikan di Darul Ulum Addiniyah setelah melewati ujian yang begitu sulit. Pada saat itu, dengan rahmat Allah SWT, aku berhasil meraih nilai “Jayyid” dan berada pada posisi teratas diantara teman-teman seangkatanku . Kemudian tidak lama berselang, tepatnya di bulan Muharram tahun 1371 Hijriyah aku diminta untuk mengajar di sekolah tersebut. Pada saat aku telah menjadi pengajar, banyak pelajar yang memperhatikan serta menantikan kehadiranku di kelas-kelas. Namun demikian, meskipun aku telah berhasil lulus dengan nilai terbaik di sekolah tersebut, tetap saja aku senantiasa “bermulazamah” kepada Syaikh Yasin di rumahnya maupun di sekolah sehingga aku banyak membaca dan belajar darinya. Pada saat aku “bermulazamah” dengan beliau ada beberapa kitab yang paling aku sukai, diantaranya ialah Muwattho Malik, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi, Nasa’I, Ibnu Majah, Shahih Bukhori dan Muslim dimana semuanya berhasil aku tamatkan.
Khusus untuk kitab Muwattho Malik dan Sunan Abi Daud maka metode pembelajaran yang aku pergunakan adalah dengan membacanya secara “tahqiq dan tatbiq” dengan memperhatikan kaidah-kaidah Ushul Hadits dan Ushul Fiqih disertai dengan Qowa’id Al Fiqh atas mazhab yang berlaku, seperti Mazhab Syafi’i, Malik, Abi Hanifah dan Ahmad Rodhiallahuanhum. Di samping mazhab-mazhab tersebut, aku juga menyertakan mazhab-mazhab lainnya untuk aku pelajari sehingga aku dapat mengetahui jalan “istidlal dan istinbat”. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang sebaik-baiknya kepada mereka semua. Amin.
Di dalam waktu yang hampir bersamaan, aku juga mempelajari beberapa kitab lainnya, diantaranya adalah Al Maqulat Alasyr, Fanni Alwadho, dan ‘Ulumu Alisnad. Setelah selesai mempelajari kitab-kitab tersebut, aku diberikan ijazah oleh Saidy Assyaikh Alimuddin Muhammad Yasin yang dinamakan “Maslak Aljala Fi Asanidi Assyaikh Muhammad Ali dan Mitfah Alwajdani Min Asanidi Assyaikh Umar Hamdan”. Kedua ijazah tersebut merupakan karangan guru kami, sebagaimana telah memberikan ijazah kepadaku oleh “Awail Alsunbulah”. Selain kedua guru ku tersebut, masih ada guru ku yang lain yang juga memberikan ijazah kepadaku, yakni Syaikh Muhammad Abdul Baqi. Beliau memberikan ijazah kepadaku secara umum dan khusus setelah aku selesai membaca “Almanahili Alsilsilah Fi Alahaditsi AlMusalsalah” baik secara “fi’liyah maupun qouliyah”.


Secara singkat aku katakan bahwa tidak ada sesuatu yang aku peroleh melainkan aku mengambil dari guru-guruku dengan mencontoh perbuatannya, baik secara perilaku maupun ucapannya. Adapun tentang “Almusalsal Bi Alawwaliyah Alhaqiqiyah” maka aku memperolehnya dari Fadilah Assayyid Muhammad Mustofa Alsingiti. Disamping itu, aku juga mempelajari beberapa kitab lainnya kepada beliau. Diantaranya adalah fiqih mazhab Malik, seperti kitab “Almudawwanah Alkubro”, kemudian fiqih mazhab Hanafi, seperti kitab “Almughni Liabi Qudamah”, dan fiqih Alahnaf, seperti kitab “Durru Almukhtar Li Ibni Abidin”.
Itulah beberapa anugerah yang aku peroleh dari para ulama Mekkah selain anugerah-anugerah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Untuk kota Madinah, maka ulama-ulama yang sangat besar pengaruhnya terhadap perjalanan belajarku di kota tersebut adalah Syaikh Muhammad Amin Alsingiti, Syaikh Abdul Rahman Alafriqy, serta beberapa guru-guru lainnya yang berada di kota tersebut. Selama di kota Madinah aku hampir setiap saat mengunjungi perpustakaan yang bernama “Maktabah Syaikh Alislam ‘Arif Hakat”. Di perpustakaan tersebut tersedia berbagai macam judul buku mengenai ilmu agama maupun “ilmu alat”. Aku senantiasa berdoa kepada Allah SWT semoga seluruh ilmu yang aku peroleh dapat diamalkan dan disebarluaskan. Dengan izin Allah SWT pula lah, aku diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu pengetahuanku di kota Mekkah.

Beberapa waktu kemudian, sampailah surat dari Ibu ku yang isinya tidak lain adalah untuk memintaku kembali ke tanah air Indonesia. Sebelum aku menjawab surat Ibu ku tersebut, terlebih dahulu aku memohon petunjuk kepada Allah SWT dengan melakukan sholat Istikhoroh di kota Madinah. Dalam sholat tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk-Nya agar aku secepatnya memenuhi panggilan Ibu ku tersebut. Dengan mengucap Alhamdulillah akhirnya aku tiba kembali ke tanah air yang telah begitu lama ku tinggalkan dengan selamat, bertepatan dengan hari Kamis 6 Agustus 1955 / 19 Shafar 1375 H. Puji bagi Allah SWT yang mana aku masih dapat bertemu dengan kedua orangtua ku.

PENUTUP
Inilah apa yang terlintas dalam hati dan benakku yang aku kumpulkan sebagai intisari dari perjalanan hidupku di tanah haram, Mekkah dan Madinah. Maha Besar Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga aku dapat mengamalkan ilmu yang telah aku peroleh.

Bekasi, 14 Juli 1972 M
2 Jumadil Awal 1392 H








Sejarah Singkat Perjalanan Syaikh Muhammad Muhadjirin
Dalam Menuntut Ilmu Di Jakarta

Tatkala “Isnad” merupakan bagian dari agama, dan menempatkan pribadi secara utuh kepada para syaikh seperti halnya menempatkan pribadi secara utuh kepada orangtua, maka aku memiliki keinginan untuk menuliskan berbagai macam kejadian serta pengalaman yang terlintas dibenak ku di masa yang lalu.
Jakarta sebagai kampung kelahiranku, disana jualah aku pertama kali menuntut berbagai macam ilmu agama, baik ilmu syara’ dan ilmu alat secara naqliyah maupun aqliyah yang disertai dengan sanad-sanad yang bersambung (muttasil) kepada Sayyidil Mursalin Nabiallah Muhammad SAW.
Kampung Baru sebuah daerah di pinggir kota Jakarta adalah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtua ku. Di masa kecil orangtua ku telah menanamkan prinsip akan pentingnya pendidikan. Untuk itulah orangtua ku meminta tolong kepada kerabatnya untuk dapat mengajarkanku. Dimulai dari belajar mengenal hurup arab (hijaiyah) sampai dengan membaca Al Qur’an. Pada saat pertama kali aku berhasil mengkhatamkan Al Qur’an, betapa gembira dan bangganya perasaan kedua orangtua ku. Sebagai wujud rasa gembira dan syukur tersebut kedua orangtua ku mengadakan tasyakuran dengan mengundang para tetua-tetua kampung serta orang terpandang di daerah itu .
Setelah beberapa waktu kemudian, atas inisiatif orangtua ku, guna melanjutkan pendidikan mereka memutuskan untuk mengirimku kepada para mu’allim agar dapat mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan ilmu alat.

Mu’allim pertama yang aku kunjungi adalah Guru Asmat (Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau). Dari beliau aku mempelajari berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya ialah :
Shorof
تصرفة الآفل
Nahwu
الجرمية

مختصر جدا

الكفروي وشرحه لشيخ خالد

حاشية على العشماوى

شرح المكودي على الاجرومية

تسهيل نيل الامانى فى العوامل النحوية

الطراف من شذور الذهب.





Fiqih
متن سفينة النجاء

متن التقريب وشرحه فتح القريب المجيب

فتح المعين وحاشية اعانة الطالبين.
Albayan
رسالات فى الاستعارة لسيد دحلان
Mantiq
ايضاح المبهم
Ushul Fiqh
ورقات امام الحرمين
Ilmu Kalam
كفاية العوام
Tasawuf
بداية الهداية للغزالى

رسالة المعوانة

Berbagai macam ilmu tersebut aku pelajari lebih dari 6 tahun. Namun dipertengahan masa aku belajar dengan Guru Asmat, aku menyempatkan juga untuk menuntut ilmu kepada H.Mukhoyyar (Semoga Allah memberi rahmat kepada beliau) untuk mempelajari Al Qur’an serta Ilmu Tajwid.

Mu’allim kedua yang telah berjasa dalam perkembangan pemikiran ku ialah H. Ahmad (Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau). Dengan beliau aku belajar selama 4 tahun. Adapun kitab-kitab yang aku pelajari antara lain yaitu :

· Nahwu
الطراف من شذور الذهب

قطر الندا وبل الصدى

شرح المكودي على الفية مقدمة الازهرية
· ‘Arud
مختصر الشافى
· Fiqih
مواهب الصمد فى حل الفاظ الزبد
Hadits
اربعين العصفورى



Mu’alim ketiga yang sangat berjasa dalam perkembangan pemikiranku ialah Kyai Haji Hasbialloh ) Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada beliau ). Kyai Haji Hasbialloh merupakan pendiri Yayasan Al Wathoniyah yang berada di Klender Jakarta Timur. Saat ini yayasan pendidikan yang bernaung di bawah payung Al Wathoniyah telah menyebar di pelosok Jabotabek.
Bersama beliau aku bermulazamah selama 3 tahun. Adapun kitab-kitab yang aku baca bersama beliau antara lain ialah :

Nahwu


شرح ابن عقيل على الفية ابن مالك

_ شرح مجيب الندا على قطرالندى وبل الصدى


Balagoh

الجوهر المكنون

رسالات فى الاستعارة

الصاوي على الدر ديرو اطراف من مختصر المعانى على التلخيص

Mantik

ايضاح المبهم

ايساغوجى

Tasawuf

تنبيه الغافلين

رسالة المعاونة

_ النصائح الدينية

منهاج العابدين




Akhlak

تعليم المتعلم

Tafsir

الجلالين






Mu’allim keempat yang telah memberikan pengajaran kepada ku ialah H. Anwar Rahmatulloh alaihi. Adapun kitab-kitab yang aku baca ialah :


Nahwu
مجيب الندا على قطر الندا

قطر الندا

Fiqih
الشرقاوي على التحرير


Mu’allim kelima ialah Ahmad Mursyidi. Kepada beliau aku membaca dua kitab / fan, yakni :

Mantik
ايضاح المبهم

ايساغوجى
· Balagoh
مختصر المعانى

الجوهر المكنون

Guru yang keenam adalah H. Hasan Murtaha. Dengan beliau aku mempelajari beberapa fan, yaitu :
· Nahwu

مغنى البيب فى كتب الاعارب
· Balagoh
عقود الجمان
· Mustholah Hadits
البيقونى
· Ushul Fiqh
جمع الجوامع
· Adabul Bahats Wal Munazhoroh
شرح الطاشى الكبرى زاده


Guru yang ketujuh ialah Syekh Muhammad Tohir Rohmatullohi Alaihi. Melalui beliau aku mempelajari begitu banyak pelajaran. Dengan beliau pula aku melewati masa yang cukup lama, yakni 9 tahun. Adapun kitab-kitab yang aku pelajari ialah :
Nahwu
الاشمونى على الالفية

مغنى اللبيب فى كتب الاعارب

همع الهوامع للسيوطى
Fiqih
التحرير على الشرقاوى

اقناع فى حل االفاظ ابى شجاع

فتح الوهاب على شرح منهج الطلاب

شرح المنهاج للمحلى

بغية المشترشد ين فى تلخيص فتاوي بعض أئمة المتأخرين

Tafsir
الجلا لين

الخازن
Mantik
الصبان على الملوي

التهذيب
· Balagoh
الجوهر المكنون

شرح التلخيص المطول

المختصر
Tasawuf
احياء علوم الدين

نزهة الناظرين

الزواجر عن اقتراف الكبائر

تنبيه المغترين

لواقح الانوار فى طبقات الاخير

منهاج العابدين

· Hadits
صحيح البخاري

صحيح مسلم
Adabul Bahats wal Munazhoroh

الرشيدية للجونفرى

Falak
تقويم النيرين لشيخ عبد المجيد

Selain itu aku mempelajari juga gerhana bulan dan matahari dengan Ahmad bin Muhammad, murid dari Syekh Mansyur Alfalaky.
Dalam setiap memasuki bulan Rajab, aku senantiasa membaca :

معراج الكبير لنجم الدين الغبطى

· Ushul Fiqh
ورقات امام الحرمين

جمع الجوامع

Selain membaca kitab-kitab tersebut di atas, aku masih menyempatkan diri untuk mempelajari tata cara membaca Al Qur’an yang benar dengan Kyai Haji Sholeh Ma’mun di Banten.

Guru yang kedelapan ialah ialah Syekh Abdul Majid (Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepadanya). Kepada beliau aku juga mempelajari beberapa macam kitab, yaitu :

· Faroid
الرحبية
· Fiqih
فتح الوهاب

اقناع فى حل الفاظ أبى شجاع
· Tafsir

الجلالين
Hadits

رياض الصالحين

صحيح البخاري
Tasawuf

العربعين للغزالى

الحكم لأبنى عطاء الله السكندري
Mustolah Hadits

البيقوني

Guru yang kesembilan dimana merupakan guru yang terakhir di masa belajarku di Jakarta ialah Assayyid Ali bin Abdurrahman Alhabsy (Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepadanya). Kepada beliau aku mempelajari Al Hikam. Adapun pelajaran yang paling banyak aku pelajari dari beliau ialah pelajaran

الوعظ والارشاد



Demikianlah perjalanan masa belajarku di Jakarta. Semoga Allah SWT memberikan manfaat ilmu pada ku dengan sebab guru-guru tersebut dan mudah-mudahan mengembalikan keberkahan mereka pada kami semua. Amin


1 komentar:

Anonim mengatakan...

Yaa..Allah berikanlah keberkahan ilmu beliau kepada semua murid-murid dan yang pernah memandang wajah beliau...Alla YArham Hadhrotus Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Ad Daari..Amin..

Rahmat Hidayat Al Madawi
STIT AL MARHALAH AL'ULYA
Tingkat 4